03 Februari 2005

Kuliah Umum Yuwono di HUT SSS

Kemarin menghadiri kuliah umum yang diberikan oleh Profesor Yuwono Sudarsono yang saat ini menjabat sebagai menteri pertahanan. Acara yang merupakan peringatan ulang tahun ke 4 Soegeng Saryadi Syndicate (SSS/triple S), bertindak sebagai pembawa acara direktur eksekutif SSS Sukardi Rinakit. Juga ada pidato oleh Profesor Sapardi Djoko Damono (guru besar dan mantan dekan FSUI) mengingatkan aku pada peran karya sastra sebagai perwujudan daya imajinasi manusia yang menunjukkan bahwa tidak hanya satu kenyataan yang mungkin bahkan kenyataan yang ada pun bisa membawa banyak interpretasi dalam pemikiran orang. Kemampuan imajinasi sebagai kekuatan pendorong perubahan mungkin membuat karya sastra kerap dilarang oeh rejim otoriter. Sebelumnya berbicara sang empunya gawe Soegeng Saryadi, yang berkali-kali breucap bahwa "this is not about pride, but a life time work and dream of bringing a better society". Juga diluncurkan buku kumpulan tulisan staf SSS yang digabungkan dengan bermacam puisi, mencoba "membaca Indonesia" (sesuai dengan judul bukunya) dengan ilmu dan sastra. Selain itu ada juga musik oleh Idang Rashidi, cara lain lagi untuk membaca Indonesia.

Secara garis besar Mas Yu (panggilan akrab Prof Yuwono) berbicara tentang Indonesia dalam 3 perspektif: sebagai negara demokratis berpenduduk nomor 3 terbesar; sebagai negara berpenduduk Islam terbesar di dunia; dan sebagai "key pivotal regional state".

Mas Yu melihat bahwa permasalahan di Indonesia adalah bahwa demokrasi politik yang berjalan tidaklah menyentuh demokrasi ekonomi, sebaliknya juga diingatkan bahwa kalangan akademisi pada umumnya menunjuk bahwa dari pelajaran sejarah selama ekonomi masih berada pada tingat rendah maka demokrasi masih lebih merupakan kemewahan. Juga diungkapkan 3 R yang merupakan langkah dasar yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan pembangunan demokrasi di Indonesia. R pertama adalah Reformasi Politik sedangkan R kedua adalah (rehabilitasi) ekonomi yang dibutuhkan untuk mengisi reformasi politik. Namun keduanya membutuhkan dasar R yang ketiga yakni, rekonsiliasi. Sayang tidak sempat dielaborasi rekonsiliasi antara siapa.

Pada perspektif yang kedua tentang Indonesia sebagai negara dengan penduduk beragama Islam terbesar dunia, Mas Yu melihat bahwa Indonesia sedang bereksperimen untuk bisa menunjukkan pada dunia wajah Islam yang toleran (pada tingkat negara). Tetapi dari pembicaraannya dengan diplomat dari Timur Tengah semasa belia bertugas sebagai Duta Besar di London, diingatkan bahwa kita tidak bisa bersifat arogan ke teman-teman di Timur Tengah. Indonesia diuntungkan karena letak geografis yang jauh dari konflik Palestina, dan juga terlepas dari masalah "Arabic pride" untuk masalah yang sama. Juga persoalan kepentingan geopolitis minyak Amerika Serikat di Indonesia tidak sehebat kepentingannya di Timur Tengah.

Sebagai "key pivotal regional state" Mas Yuwono kembali pada dasar ilmu hubungan internasional tentang struktur dunia saat ini. Berakhirnya perang dingin yang membawa satu super-power, melahirkan negara-negara kunci regional yaitu negara yang perkembangannya menentukan situasi umum di kawasan sekitarnya. Disebutkan Pakistan, Nigeria, Mesir, Brasil sebagai contoh. Besarnya lalu lintas perdagangan dunia yang melintasi perairan Indonesia merupakan satu alasan mengapa Indonesia menajdi negara kunci bagi kawasan Asia Tenggara.

Penanya dan penanggap dari hadirin pada umumnya berbicara masalah pendidikan. Prof Utomo Dananjaya misalnya mengingatkan bahwa pada Pembukaan UUD 45 tugas pemerintahan ada 4 (melindungi; mensejahterakan; mencerdaskan; dan turut serta menciptakan kedamaian dunia) juga bahwa orde baru selalu mengumandangkan trilogi pembangunan (stabilitas, pembangunan, dan pemerataan); yang bila dikaitkan juga dengan 3 R dari pembicara yang hilang selalu adalah masalalah mencerdaskan atau pendidikan.

Dalam jawabannya Mas Yuwono mengemukakan bahwa sesuai undang-undang kewajiban menteri pertahana yang saat ini di jabatnya tidak hanya menyangkut pertahanan militer (teritorial), tetapi juga ada perintah untuk mempertahankan sumber daya ilmu-pengetahuan bangsa. Diungkap bahwa saat menjabat sebagai menteri pendidikan angka penyandang S3 di Indonesia itu tidak lebih dari 5000 orang, sangat sendah di banding dengan Philipina yang punya 15.000 dengan 60 juta penduduk. Rendahnya "brain ware" ini tentu punya dampak bahkan sampai pada kemampuan untuk mempertahankan teritori, terlebih pada kemampuan untuk membangun. Ada ilustrasi beliau bagaimana mengharap Papua dan Aceh harus bernegosiasi dengan sektor swasta Internasional kalau secara nasional saja angkanya seperti itu. Persoalannya bagaimana otonomi memacu percepatan pemerataan pembangunan pada daerah2 yang kaya sumberdaya tetapi miskin "brain ware".

Ada penanya lain yakni Akbar Tanjung, sesuai dengan pengalamannya menanggapi proses demokratisasi dan kesulitannya terutama sekitar rendahnya kualitas (etis) politisi Indonesia saat ini. Dalam tanggapannya antara lain Mas Yu enyebutkan bahwa persoalan kritis pembangunan politik dimana pun adalah pembangunan partai politik. Sempat di lontarkan bahwa begitu sulitnya memimpin partai politik sehingga mereka yang mau hanya "orang gila". Mas Yuwono juga mengungkapkan bahwa persoalan terbesar partai adalah konsolidasi internal, suatu hal yang berhasil dilakukan oleh Akbar di Golkar terbukti dengan kemenangan Golkar memenangi pemilihan umum legislatif. Penghargaan yang diberikan pada tokoh politik yang kalah mungkin penting sebagai pendidikan politik juga, bagian dari upaya mencerdaskan kehicupan bangsa. Pada bagian penutup Sukardi Rinakit sempat bercerita bahwa dalam satu pembicaraan baru2 ini dengan Pramudya Ananta Toer, pernah bertanya "siapa tokoh paling demokratis saat ini?" yang di jawab Pram "Akbar Tanjung, dia yang memulai konvensi pemilihan presiden, dan pemilihan ketua umum terbuka Golkar".

Tidak ada komentar: